- 0 Komentar

Kembali Menggunakan WordPress

Ali
6 minutes read
Miscellaneous

Tiga bulan lalu saya sempat mengganti platform situsali menggunakan static site generator (SSG), dengan Hugo. Rencana pemindahan platform sebetulnya memang sudah lama saya rencanakan, sejak 2016 yang lalu. Tetapi rencana itu selalu menjadi sebuah wacana tanpa realita.

Tujuannya pindah ke SSG adalah karena saya ingin fokus nulis di mana saja dan kapan saja tanpa terkendala masalah teknis.

Keputusan Pindah

Akhirnya, Juni 2019 kemarin, saya putuskan untuk pindah platform beralih ke SSG. Keputusan pindah juga dibarengi dengan alasan pemangkasan biaya. Karena selain pindah platform, saya juga pindah hosting.

Jika menggunakan WordPress, saya harus menyewa VPS paling tidak seharga $5 perbulan atau dirupiahkan sekitar 75 ribu rupiah. Mengapa tidak menggunakan shared-hosting saja yang lebih murah? Saya tidak memilih itu, karena ingin memiliki tempat yang lebih private sekaligus bebas.

Di Hugo, saya menggunakan GitLab Pages sebagai hosting-nya. Pemilihan GitLab atas dasar ingin memiliki private repository yang gratis. Kalau gratis berarti tidak ada biaya tambahan hosting, artinya saya bisa hemat 75 ribu rupiah perbulan.

Meskipun layanan lain serupa GitLab juga ada seperti BitBucket. Namun, saya tetap memilih GitLab. Mengapa? Karena GitLab memiliki keunggulan di GitLab CI (continuous integration) yang memungkinkan kita dapat memasang berbagai SSG.

Juga di GitLab image untuk CI-nya keunggulan lainnya kita bisa custom. Sehingga dengan demikian, saya bisa menggunakan image yang sudah terpasang tools untuk minify css dan js. Kalau minify html sudah ada bawaan dari Hugo.

Aksi Sebelum Pindah

Sebelum pindah saya melakukan full-backup di Google Drive dan localhost di laptop Thinkpad T430. Mengapa harus full-backup? Karena saya ingin memasang dan menjalankan situsali di localhost untuk proses pemindahan artikel.

Kemudian memindahkan komentar ke Disqus. Mengapa ke Disqus tidak ke yang lain? Karena dalam urusan komentar sistem yang gratis sekaligus banyak fitur. Disqus masih lebih baik dibandingkan yang lain. Karena itulah saya memilihnya. Lagi pula didokumentasi Hugo menyarankan menggunakan Disqus.

Kendala Saat Pindah

Saat pindah ke SSG saya menjumpai berbagai kendala yang sebenarnya sudah saya tahu akan hal itu jika pindah ke SSG. Yakni:

Pindah sistem komentar

Komentar di blog merupakan suatu hal yang sangat penting. Bagaimana tidak, karena dengan adanya komentar berarti ada interaksi dengan orang lain dan artikel kita otomatis juga telah dibaca, dengan catatan bukan komentar spam.

Sungguh disayangkan dengan komentar yang ada di sini, ketika pindah malah hilang. Salah satu siasat, saya migrasikan kometar ke Disqus.

Proses pemindahan komentar cukup mudah tanpa kendala. Yang saya lakukan adalah hanya menyesuaikan URL lama, agar komentar tersingkronisasi.

Nah kendala utamanya menggunakan Disqus adalah karena saya pakai versi gratis. Sedangkan gratisan, Disqus menyisipkan iklan sekaligus tracker yang segudang. Dengannya menjadikan load situs lebih lama.

Jika ingin menghilangkan itu, saya harus berlangganan versi pro yakni sebesar $10 perbulan. Loh, malah dua kali lebih mahal jika dibandingkan pakai VPS?

Pindah Artikel

Kendala kedua yakni masalah pemindahan artikel. Saya memindahkan artikel secara manual, kopas satu persatu dan menyamakan permalink-nya agar singkron komentarnya dengan yang ada di Disqus.

Tujuan pemindahan secara manual, saya khawatir jika tidak dilakukan secara manual format artikel akan berantakan. Apalagi WP dan SSG dua hal yang berbeda. Selain itu, dengan cara manual saya bisa pindahkan sembari menyunting bahasa artikel lama, dan cek ulang apakah di artikel lama ada tulisan yang typo atau salah penyampaian.

Tentu dengan cara manual akan memakan waktu yang lama. Untuk artikel yang tak memiliki gambar mungkin tidak menjadi masalah. Tinggal saya kopas, dan sesuaikan style-nya. Beda hal dengan artikel yang ada gambarnya, biasanya artikel berupa tutorial saya sematkan gambar untuk informasi.

Untuk Artikel bergambar effort memindahkan cukup melelahkan. Pertama, saya harus pindahkan gambarnya ke direktori sesuai judulnya, kedua meletakan gambar dengan markdown cukup repot, sintaknya seperti berikut:

![Deskripsi Gambar](direktori/dimana/gambar/diletakan.jpg)

Untungnya Hugo memiliki keunggulan dalam hal struktur direktori untuk artikel. Kita tidak perlu meletakan gambar di dalam direktori lain katakanlah di direktori /static. Kita bisa meletakannya sesuai dengan letak artikel kita dengan cara berikut:

content/
  posts/
    judul-artikel/
      _index.md
      gambar1.jpg
      gambar2.jpg
      video.mp4
 

Biasanya dalam SSG judul artikel adalah nama artikel. Kalau di Hugo kita bisa menjadikan direktori sebagai judul artikel dan artikelnya kita buat di berkas _index.md. Dengan struktur seperti ini memudahkan kita meletakan gambar sesuai dengan judulnya, tidak perlu lagi ditaru di satu tempat yang memang khusus untuk meletakan aset gambar.

Saya telah menulis sebanyak 242 artikel di sini. Nah, berarti saya harus melakukan kopas sebanyak 200++ secara manual, cukup melelahkan. Apalagi saya hanya bisa melakukannya di malam hari dan biasanya sekitar 1 artikel atau bahkan setengah yang baru terkopi, belum lagi disertai rasa jenuh.

Nah, baru 3 bulan saya hanya bisa memindahkan tidak sampai 1/4 artikel sekitar 20 artikel yang baru dipindahkan. Jadi masih ada 222 artikel yang belum pindah.

Deployment

Yang terakhir kendala deployment. Karena saya pindah ke SSG berarti saya harus melakukan deployment, seperti tema dan search. Untuk tema mungkin tidak menjadi masalah saya tinggal pakai yang ada dan modif sedikit. Lain hal dengan search, saya harus bangun lagi dengan bantuan JS. Dan salah satu kekurangannya searchnya tidak sebagus CMS, tentu saja karena CMS seperti WordPress menggunakan sistem database jadi tinggal search dengan query dan hasilnya akurat lagi cepat.

Kesimpulan

SSG Bukan Untuk Semua Orang

Jika kalian ingin fokus nulis di blog, saya saran jangan pakai SSG, kecuali kalian memiliki cukup waktu untuk hal teknis. Pakailah CMS.

Seperti saya, yang niatnya pindah ke SSG karena ingin fokus nulis di mana saja dan kapan saja tanpa terkendala masalah teknis. Tapi malah realitanya disibukan dengai berbagai macam hal teknis, hingga susah untuk nulis.

Dari kendala-kendala tadi, menyebabkan saya kembali lagi pakai WordPress karena ia mudah dan tidak perlu banyak mikir fokus nulis.

Kelebihan Saat Pakai SSG

Tapi dari semua itu, saya merasakan beberapa kelebihan ketika pindah ke SSG.

  1. Tema mudah di-custom.
  2. Saya bisa menjalankan hugo di Smartphone Android dengan aplikasi Termux. Jadi pada saat pemindahan artikel saya bisa melakukannya dari smartphone tanpa perlu buka laptop.
  3. Hemat biaya, saya hanya perlu modal domain saja. Seperti yang telah saya katakan, saya melatakan SSG di GitLab Pages versi gratisan. Sebelumnya pakai VPS $5/bulan, dengan SSG saya hemat $5.
  4. Security. Masalah security untuk SSG jangan ditanya lagi. Karena static jadi kita tidak perlu database, dan tidak perlu khawatir untuk di hack. Kalau pakai VPS saya perlu mempertimbangkan masalah security.
%d bloggers like this: